Perbanyak Pengrajin, Kelas Belajar Batik Durian Dibuka

HEADLINESRIWIJAYA.COM

LUBUKLINGGAU – Upaya untuk mengenalkan dan mempromosikan batik durian khas Lubuklinggau terus dilakukan Pemerintah Kota (Pemkot) Lubuklinggau.

Bahkan saat ini telah dibuka kelas untuk siapa saja yang bersedia belajar membuat batik durian khas Lubuklinggau. Dan itu merupakan bagian strategi untuk menduplikasi lebih banyak lagi pengrajin batik durian khas Lubuklinggau.

“Jadi batik durian bisa sampai ke panggung Nasional dan Internasional sebetulnya diluar dugaan. Saya tidak menyangka bakal secepat ini pergerakan batik durian. Ini patut kita syukuri,” kata Ketua Dekranasda Lubuklinggau yang juga Ketua TP PKK Lubuklinggau, Hj Yetti Oktrina Prana, Kamis (20/10/2022).

Selaku penggagas batik durian di Lubuklinggau, Rina mengaku mempunyai kewajiban melakukan pembinaan secara berkesinambungan untuk para pengrajin di Lubuklinggau.

“Jadi yang saya rasakan semenjak batik durian berhasil kita promosikan ke Milan, Fashion Week tahun lalu sampai tahun ini, itu terjadi peningkatan yang luar biasa signifikan kepada peningkatan jumlah pengrajin dan kapasitas produksi,” ungkapnya.

Rina menjelaskan, dari yang awalnya sebelum ke Milan batik durian Lubuklinggai kapasitas produksi hanya sekitar 150 potong perbulan. Sekarang sudah sekitar 350 potong kapasitas produksinya perbulan.

“Kita sudah didesak oleh pasar penjualan online. Tapi kita belum mampu. Karena untuk penjualan offline saja kita masih harus bersusah payah memenuhi kebutuhan,” terangnya.

Untuk permintaan, kata Rina kebanyakan dari lokal. Adapula tamu dari Kementerian, Provinsi dan Kabupaten. Termasuk pemerintahan seperti Kejaksaan dan Pengadilan. Mereka mencari oleh-oleh batik durian.

“Makanya pasar batik durian besar sekali,” jelasnya.

Lebih lanjut, saat ini di Lubuklinggau sudah ada tiga sentra tempat produksi batik durian Lubuklinggau.

“Dan saya melihat sekarang tiap-tiap sentra itu kapasitas produksinya itu sudah nambah terus jumlahnya, perbulannya,” kata Rina.

Disamping itu, Rina menambahkan, terjadi juga minat yang luar biasa dari para calon-calon pengrajin. “Jadi kita sudah punya kelas, sekarang kita siapkan kelas untuk siapa saja yang bersedia belajar batik. Walaupun kalau diluar program pemerintah dia akan membayar biaya pengantian kain-kain dan pewarna sekaligus lilin,” ungkapnya.

Dibukanya kelas tersebut, dia mengatakan merupakan salah satu strategi untuk menduplikasi lebih banyak pengrajin. “Jadi untuk menyasar para calon-calon pengrajin atau pengrajin-pengrajin pemula,” bebernya.

Kemudian dari strategi tersebut, ditambahkannya, sudah didapatkan sekitar 10 sampai 15 orang calon-calon pengrajin batik baru. “Itu keinginan dia sendiri mendaftar sebagai pengrajin dan menganti kain dan lilin tadi,” katanya.

Selain itu, pihaknya dalam waktu dekat akan melakukan pelatihan kembali kepada para pengrajin batik. Dan menyasar sekitar 50 sampai 60 orang pengrajin yang sudah ada sekarang ini.

“Itu untuk 2 kelas pelatihan, sebagian sekitar 20 sampai 30 orang itu untuk pelatihan kelas dasar, penguatan dikelas dasar dan sekitar 25 sampai 30 orang lagi akan dikelas sudah tingkatan lebih mahir,” terannya.

Lalu dari tiga kelompok pengrajin tersebut dijelaskannya, masing-masing akan dipilih dua orang untuk diajari membatik oleh Ketua Yayasan Batik Indonesia.(an)