Efek Berganda Hulu Migas: Dari Sumur Energi ke Rumah Herbal di Gajah Mati

HEADLINESRIWIJAYA.COM

Musi Banyuasin,– Di Desa Gajah Mati, Kecamatan Babat Supat, Kabupaten Musi Banyuasin (Muba), geliat industri hulu migas rupanya tak hanya menghasilkan minyak bumi. Di sela gemuruh mesin rig pengeboran atau anjungan pengeboran. Alat yang digunakan untuk mengebor ke dalam reservoir bawah tanah untuk mengekstraksi minyak dan gas bumi, melalui mesin Angguk dan aroma minyak mentah, tumbuh sebuah energi lain yang lebih halus, Energi pemberdayaan, yang mengubah kehidupan ibu-ibu desa Gajah Mati kecamatan Babat Supat Kabupaten Musi Banyuasin menjadi kisah inspiratif tentang kemandirian dan ekonomi hijau.

PT Medco E&P Indonesia(Medco E&P) di blok Rimau yang menjadi katalis perubahan di Desa yang unik memiliki sejarah adanya Gajah mati ini. Melalui program Corporate Social Responsibility (CSR), perusahaan migas nasional ini membuktikan bahwa industri energi mampu menyalurkan manfaat ganda, bukan hanya bagi perekonomian nasional, tetapi juga bagi kesejahteraan masyarakat di sekitar wilayah operasi.

FOTO: kelompok Wanita Tani( KWT) Herbal” Kenaga”.( doc.humas Medco)

Semua berawal pada tahun 2011. Saat itu, tim CSR Medco E&P mengundang ibu-ibu PKK Desa Gajah Mati untuk mengikuti pelatihan sederhana tentang tanaman umbi umbian dan rempah yang bermanfaat untuk kesehatan. Dari sinilah tumbuh Kelompok Wanita Tani (KWT) Kenanga, sebuah wadah kecil yang kemudian mekar menjadi simbol ekonomi hijau di Muba.

Pertemuan bersama ibu-ibu PKK Desa Gajah Mati untuk mengenalkan berbagai macam tanaman umbian untuk rempah masakan, selain itu juga ternyata tanaman itu banyak khasiatnya untuk dijadikan obat. “berawal dari pertemuan itula terbentuk kelompok-kelompok tanaman herbal yang dibina oleh Medco E&P . Perkenalan dengan Tanaman obat dimulai melaksanakan program tanaman obat keluarga ( Toga) di desa tersebut, program pemberdayaan masyarakat berupa pemanfaatan toga ini dimulai pelatihan( Assesment) didesa gajah mati, Sebelum ada kelompok ini, saya hanya ibu rumah tangga biasa, Kami diajak belajar menanam tanaman herbal, mengolahnya, dan menyadari nilai ekonominya. Dari situ kami mulai percaya diri bisa membantu ekonomi keluarga.” kenang Yeni Lusmita, ketua KWT Kenanga dari desa hajah Mati kecamatan Babat Supat Kabupaten Musi  Banyuasin Sumatera Selatan , Indonesia.

FOTO: Tim pendampingan dari Pt Medco E&P Pemberian bibit Herbal( Doc. Humas Medco)

Tak berhenti pada pelatihan, Medco E&P terus mendampingi kelompok ini dengan memberikan bantuan bibit, peralatan produksi, hingga pelatihan lanjutan. Bahkan pada tahun 2013, ibu-ibu KWT Kenanga difasilitasi untuk studi banding ke luar provinsi, belajar langsung tentang pengolahan herbal dan manajemen usaha kecil.

“Medco E&P membantu bukan hanya dengan alat, tapi juga ilmu,Kami belajar membuat jamu instan, minuman sehat, sampai kapsul herbal. Semua itu membuka wawasan baru bagi kami, dan merupakan energy baru bagi kami untuk hidup lebih baik,” tutur ibu Empat anak ini. 3 Laki- laki dan 1 Perempuan .

FOTO: Ibu Yeni Lusmita(56)sosok wanita Infiratif KWT Herbal Kenanga”” desa gajah mati kec. Babat Supat kab. Muba, saat memegang Tanaman Kumis Kucing berbagai mamfaat untuk Kesehatan.( doc.humas Medco)

Wanita paruh baya dengan perawakan gempal ayu nan lembut khas orang jawa  ramah dan selalu ceriah dan enerjik setiap pengunjung yang datang ke pondok Herbal kenanga mengatakan bahwa efek dari ilmu yang didapatkan dari Medco E&P sangat terasa nyata. Dari kegiatan yang awalnya sekadar hobi menanam, kini tumbuh unit usaha produktif  bernama Rumah Herbal Kenanga.

Rumah produksi yang dibangun pada 2022 dengan dukungan Medco E&P ini, sekarang menjadi pusat pembuatan berbagai produk herbal untuk kesehatan keluarga, mulai dari jahe instan, bandrek, temulawak, macam macam syiruf hingga aneka macam racikan obat seperti kapsul dan berbagai herbal makanan minum  kesehatan.

FOTO: Hasil Turunan produk tanaman obat hrrbal menghasilkan Minuman Sirup Herbal dari Tangan ibu Yeni ketua KWT Kenanga( doc.ibu Yeni)
FOTO: Produg Empon Instan minuman Herbal jsaat masa Covid untuk mengatasi imun tubuh dan dahak (doc.ibu Yeni)

Pemberdayaan yang dilakukan Medco E&P terbukti menimbulkan efek berganda (multiplier effect) di Desa Gajah Mati. Tak hanya meningkatkan pendapatan anggota KWT Kenanga, tapi juga mendorong ekonomi lokal. Banyak keluarga menerima manfaat dari program yang dilakukan oleh Medco E&P .

KWT Kenanga kini rutin mengikuti Even- even pameran UMKM tingkat Kecamatan, Kabupaten, hingga Provinsi dan Luar Propnsi Sumsel. Produk mereka menjadi kebanggaan daerah, apalagi sejak mendapatkan izin edar, sertifikat halal, dan Nomor Induk Berusaha (NIB).

Saat pandemi Covid-19 melanda beberapa tahun lalu, efek berganda dari program ini semakin terasa. Produk herbal Desa Gajah Mati menjadi incaran masyarakat karena dipercaya meningkatkan imun  daya tahan tubuh. “Waktu Covid, permintaan meningkat drastis,” kata Yeni sambil tersenyum, seraya berharap agar penjualan juga terus  meningkat.

Kini, Rumah Herbal Kenanga bukan sekadar pusat produksi, tetapi juga pusat edukasi dan inspirasi. Ibu-ibu yang dulu hanya bekerja di dapur kini menjadi pengusaha kecil yang percaya diri. Mereka berbagi ilmu, mengelola keuangan, dan menumbuhkan semangat gotong royong untuk misi sejahtera bersama-sama.

FOTO: ibu yeni lusmita ketua KWT Herbal Kenanga saat menerima kunjungan Tim peneliti produg Herbalnya di rumah Produksi( doc.Humas Medco).

Dari sisi lingkungan, kebun-kebun herbal juga memberi manfaat ekologis: mengurangi limbah organik, memperbaiki struktur tanah, dan memperkaya keanekaragaman hayati lokal. Inilah wujud nyata efek berganda dari industri hulu migas, menciptakan keseimbangan antara ekonomi dan ekologi.

 “Sekarang banyak ibu rumah tangga yang lebih percaya diri, Kami tidak hanya menghasilkan uang, tapi juga menyehatkan orang.” Tutur istri M Ambar ini.

Keadaan ini juga membuat bangga Kepala Desa Gajah Mati, Subandi Arif, melalui Sekdes Haryanto, SH. Ia  menilai keberadaan kelompok herbal ini membawa perubahan signifikan, terhadap keadaan  perekonomian masyarakat Desa Gajah Mati.

FOTO: Pemerintah Desa Gajah Mati, Haryanto SH Sekertaris Desa(ist)

Asal usul nama Desa Gajah mati dikecamatan babat supat menurutnya bahwa  pada tahun 1943 ada pasukan Belanda menemukan anak gajah namun anak gajah tersebut mati, karena keterbatasan dana warga untuk merawatnya atas mengenang kejadian ini menjadi asal mula  desa Gajah Mati  Saat ini di Desa Gajah Mati, ada sebanyak 1012 jiwa Kepala Keluarga (KK), dengan mata pilih sebanyak 2500 jiwa , rata-rata mata pencairan di Desa ini bervariasi, yang didominasi oleh petani. Mulai dari petani Karet, Sawit  hingga buruh pekerja di perusahaan- peruhaan  Medco E&P,  Pertamina, Batu bara dan Proyek Strategis Nasional ( proyek jalan Tol).

Program Tanaman obat Keluarga ( Toga), Program pemberdayaan masyarakat berupa pemaafaatan  tanaman herbal untuk kesehatan ini, sangat  membantu  ekonomi masyarakat Desa  Gajah mati. Selain bisa  memberdayakan ibu PKK di Desa. Setiap ada kegiatan, produk KWT Kenanga selalu di tampilkan di pameran UMKM. Mulai dari tingkat kecamatan. Kabupaten hingga  Provinsi.

 “Kegiatan ibu-ibu KWT Kenanga tidak hanya menambah penghasilan keluarga, tapi juga menginspirasi warga lain untuk ikut menanam tanaman herbal dan hidup lebih sehat,” ujarnya.

Bukti nyata efek berganda dari Medco E&P selain menghasilkan minyak dan gas, juga menghasilkan energy baru bagi masyarakat Desa gajah Mati.

Saat ini, banyak warga memiliki semangat baru, mulai memanfaatkan pekarangan rumah untuk menanam jahe merah, serai, dan kunyit, menciptakan rantai pasok baru bagi Rumah Herbal Kenanga.

Dari satu inisiatif kecil, muncul efek ekonomi berlapis. pembelian bahan baku, tenaga kerja lokal, hingga pemasaran produk UMKM ke luar daerah. “harapan kami, aktivitas ini terus berlanjut, dan tingkat kesejahteraan masyarakat Desa terus meningkat,” katanya penuh harap.

Menurut Hirmawan Eko Prabowo, Manager Field Relation & Community Enhancement Medco Energi South Sumatera Region, Pemberdayaan masyarakat adalah usaha bersama yang membutuhkan peran dan keterlibatan dari berbagai pihak.

FOTO:Hirmawan Eko Prabowo, Manager Field Relation & Community Enhancement Medco Energi South Sumatera Region,(ist)

Kehadiran Medco E&P indonesia  berupaya mengembangkan masyarakat di sekitar wilayah operasinya melalui proses penguatan potensi yang telah ada di masyarakat secara aktif dan berkelanjutan, sehingga mampu mendorong pertumbuhan, kemajuan dan kemandirian di berbagai bidang.

Program Tanaman Obat Keluarga menjadi bagian dari upaya mendorong kemandirian kelompok perempuan dalam pengembangan ekonomi dan kesehatan.

kegiatan ini adalah bagian dari komitmen perusahaan untuk mengembangkan masyarakat melalui potensi lokal secara berkelanjutan. “Pemberdayaan masyarakat tidak bisa instan. Kami ingin sektor hulu migas menghadirkan manfaat berlapis bagi warga, Program Tanaman Obat Keluarga ini menjadi contoh sinergi antara energi fosil dan energi sosial.” jelasnya.

Dari ladang migas yang menggali energi bumi, kini lahir pula energi baru, energi kehidupan yang tumbuh dari tangan-tangan perempuan Desa Gajah Mati. Desa kecil yang dulu hanya dikenal karena minyaknya, kini harum karena serai, jahe, dan temulawak.Inilah bukti bahwa efek berganda hulu migas bukan sekadar teori ekonomi, tapi realitas sosial yang menyembuhkan.(*)

Penulis : Heriyanto