Dari Lumpur Banjir, Mariono Merajut Kembali Harapan di Bengkel Difabel

HEADLINESRIWIJAYA.COM

ACEH TAMIANG — Di antara tumpukan lumpur yang mengering dan sisa-sisa kerusakan akibat banjir bandang, Mariono perlahan merajut kembali harapan. Tongkat ketiak yang setia menopang langkahnya tak pernah menjadi alasan untuk menyerah. Bagi lelaki berusia 43 tahun itu, selama tangan masih mampu mengutak-atik mesin sepeda motor, selama itu pula harapan untuk hidup lebih baik tetap menyala.

Mariono, yang akrab disapa Nono, merupakan warga Desa Mekar Jaya, Kecamatan Rantau, Kabupaten Aceh Tamiang. Ia adalah penyandang disabilitas tunadaksa yang kini mengandalkan keterampilan sebagai mekanik sepeda motor untuk menghidupi keluarganya.

Enam tahun terakhir, kehidupan Nono tak jauh dari deru mesin, aroma oli, dan deretan kunci mekanik. Ia terbiasa mengenali berbagai kerusakan sepeda motor yang ditanganinya. Di balik keterbatasan fisik, jemarinya tetap cekatan membongkar dan memperbaiki mesin.

Namun, perjalanan menuju kehidupan yang lebih baik tidak selalu mudah. Sebelum menjadi mekanik, Nono tidak memiliki pekerjaan tetap. Hidupnya bergantung pada keluarga. Harapan untuk mandiri seolah masih jauh dari jangkauan.

Titik balik itu datang ketika Pertamina EP Rantau Field memberikan pelatihan mekanik dan memberdayakannya melalui program bengkel difabel

Bengkel yang berdiri di Jalan Lintas Medan–Banda Aceh, Kecamatan Karang Baru, Aceh Tamiang, menjadi ruang bagi Nono untuk membuktikan bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk berkarya.

“Bengkel ini pemberi kehidupan bagi saya dan keluarga. Semenjak mendapat pelatihan dan diberdayakan menjadi mekanik, ekonomi saya menjadi lebih baik,” ujar Nono kepada jurnalis siber HeadlineSriwijaya.com melalui sambungan telepon, Sabtu (31/10/2026).

Dari Bengkel, Nono Menemukan Keberanian

Bagi Nono, bengkel difabel bukan sekadar tempat bekerja. Di tempat itulah ia menemukan kembali kepercayaan diri, kemandirian, dan keberanian untuk menata masa depan.

Penghasilan dari memperbaiki sepeda motor perlahan mengubah kehidupannya. Ia tidak lagi sepenuhnya bergantung pada keluarga. Bahkan, dari pekerjaan itulah Nono memberanikan diri membangun rumah tangga.

“Setelah mengikuti pelatihan mekanik dari Pertamina EP Rantau Field, bengkel ini menjadi sumber kehidupan saya. Beberapa tahun menjadi mekanik di sini, kemudian saya menikah. Saya berani menikah karena sudah ada penghasilan dari bengkel ini,” tuturnya.

Kebahagiaan yang dibangun dengan susah payah itu membuat Nono semakin yakin bahwa kehidupan dapat berubah ketika seseorang diberi kesempatan.

Ia memegang keyakinan hidup madep mantep, sebuah ungkapan Jawa yang menggambarkan keteguhan dan keyakinan dalam menjalani kehidupan. Baginya, ketenangan batin juga menjadi kekuatan untuk menghadapi berbagai cobaan.

Namun, harapan yang telah tumbuh selama bertahun-tahun itu kembali diuji oleh bencana. Ketika Banjir Meruntuhkan Segalanya Pada 26 November 2025, banjir bandang menerjang Aceh Tamiang. Air yang datang membawa lumpur dan puing-puing menghancurkan banyak hal, termasuk bengkel difabel tempat Nono menggantungkan hidup.

Bagi Nono, banjir bukan sekadar bencana alam. Ia menjadi pukulan yang meruntuhkan hasil perjuangan selama bertahun-tahun.

Bengkel porak-peranda. Peralatan kerja rusak atau hilang. Penghasilan yang selama ini menjadi penopang keluarga mendadak terhenti.

Nono pun terpaksa mengungsi. Hari-hari yang biasanya diisi dengan memperbaiki sepeda motor berubah menjadi perjuangan untuk bertahan hidup.

“Banjir bandang kemarin menjadi cobaan paling berat. Semua barang yang saya miliki sudah hancur. Penghasilan saya pun tidak ada karena bengkel porak-peranda. Semua capaian habis hanya dalam hitungan hari,” ungkapnya.

Di tengah situasi sulit itu, Nono kembali merasakan betapa rapuhnya kehidupan. Ia seolah kembali ke titik awal, ketika belum memiliki pekerjaan dan penghasilan sendiri.

Namun, ia tidak membiarkan keadaan membuatnya berhenti berharap.Setiap hari, Nono mendatangi bengkel yang telah rusak. Bersama rekan-rekannya, ia bergotong royong membersihkan lokasi dari timbunan lumpur. Sedikit demi sedikit, tempat yang pernah menjadi sumber penghidupannya itu kembali terlihat. Di antara lumpur yang mengering, ada tekad yang tidak ikut hanyut.

Pertamina Hadir, Harapan Kembali Menyala Di tengah upaya Nono dan rekan-rekannya membersihkan bengkel, Pertamina EP Rantau Field bergerak membantu pemulihan.

Bengkel yang rusak dibuka kembali. Peralatan yang hilang diganti. Kesempatan bagi para mekanik difabel untuk kembali bekerja pun mulai terbuka.

Bagi Nono, bantuan tersebut bukan hanya tentang peralatan atau bangunan yang kembali berdiri. Lebih dari itu, bantuan tersebut menjadi jalan untuk menghidupkan kembali harapan yang sempat runtuh bersama banjir.

“Saya bersyukur Pertamina EP Rantau Field bergerak cepat membantu kami untuk bangkit. Bengkel yang hancur dibuka kembali. Barang-barang yang sudah hilang dibeli lagi. Terima kasih, saya diberi rezeki dari Pertamina EP Rantau Field,” katanya.

Kebangkitan bengkel difabel kemudian diwujudkan melalui program “Yuk Berbagi”, berupa layanan ganti oli gratis bagi masyarakat yang sepeda motornya terdampak banjir.

Program ini menjadi bagian dari upaya membantu warga Aceh Tamiang memulihkan kendaraan mereka setelah banjir bandang pada akhir November 2025.

Ratusan pemilik sepeda motor mendapatkan layanan ganti oli gratis. Di balik kegiatan tersebut, tujuh mekanik difabel binaan Pertamina EP Rantau Field kembali memperoleh kesempatan untuk bekerja dan menunjukkan keterampilan mereka.

Bengkel yang sempat lumpuh kini kembali berdenyut. Deru mesin yang terdengar di dalamnya menjadi pertanda bahwa kehidupan perlahan bergerak menuju pemulihan.

Bagi masyarakat, program ini membantu mengembalikan fungsi kendaraan yang menjadi sarana penting untuk bekerja dan beraktivitas. Sementara bagi para mekanik difabel, kegiatan tersebut menghadirkan kesempatan untuk kembali produktif dan memperoleh penghasilan.Pemberdayaan yang Menghadirkan Kemandirian

Manager Community Involvement and Development (CID) PHR Regional 1 Sumatra, Iwan Ridwan Faizal, menjelaskan bahwa program bengkel difabel berangkat dari keprihatinan terhadap tingginya jumlah penyandang disabilitas di Aceh Tamiang.

Perusahaan kemudian berupaya menghadirkan program pemberdayaan yang tidak hanya memberikan pelatihan, tetapi juga membuka kesempatan usaha bagi para penyandang disabilitas.

“Kami memberikan pelatihan kepada puluhan orang difabel tentang mekanik. Kemudian muncul gagasan mereka ingin membuat usaha, sehingga perusahaan membantu mendirikan bengkel,” ujarnya.

Menurutnya, pemberdayaan tersebut diharapkan dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, terutama dalam membuka peluang ekonomi dan meningkatkan kemandirian penyandang disabilitas.

Ketika banjir bandang merusak bengkel, perusahaan kembali mengambil langkah untuk membantu pemulihan. Pembukaan kembali bengkel menjadi bagian dari komitmen agar kelompok binaan dapat segera bangkit dan kembali produktif, baik secara sosial maupun ekonomi.

Program ini juga menunjukkan bahwa pemulihan pascabencana tidak cukup hanya dengan memperbaiki bangunan dan mengganti barang-barang yang rusak. Pemulihan perlu menyentuh kehidupan manusia, termasuk keberlanjutan pekerjaan dan penghidupan mereka.

Bagi Nono, keberadaan bengkel difabel telah membuktikan bahwa kesempatan dapat mengubah kehidupan seseorang.

Dari seorang lelaki yang dahulu bergantung pada keluarga, ia tumbuh menjadi mekanik yang mampu menghidupi rumah tangganya. Ketika banjir meruntuhkan hasil perjuangannya, dukungan dan semangat gotong royong membantunya kembali berdiri.

Kini, di tengah suara mesin sepeda motor yang kembali memenuhi bengkel, Nono menatap masa depan dengan keyakinan baru.

Tongkat ketiak masih setia menopang langkahnya. Namun, keterbatasan itu tidak pernah mampu menghentikan tangannya untuk bekerja.

Banjir boleh merendam bengkel dan menghancurkan peralatan. Akan tetapi, ia tidak mampu menenggelamkan tekad Nono untuk bangkit.

Di bengkel difabel itulah, dari lumpur yang perlahan dibersihkan, harapan kembali dirajut. Bukan hanya untuk Nono, melainkan juga bagi para penyandang disabilitas lainnya yang ingin membuktikan bahwa mereka memiliki kemampuan, kesempatan, dan masa depan.(*)

Penulis: Heriyanto