Bukittinggi, Headlinesriwijaya.com – Minang Geopark Run 2026 sukses menarik perhatian pelari dari berbagai daerah di Indonesia. Sebanyak 3.800 peserta ambil bagian dalam ajang olahraga berbasis pariwisata tersebut, Minggu (1/11/2026), sekaligus memperkuat posisi Kota Bukittinggi dan Kabupaten Agam sebagai destinasi unggulan sport tourism di Sumatera Barat.
Antusiasme ribuan peserta ini menjadi bukti bahwa perpaduan olahraga, keindahan alam, dan promosi pariwisata memiliki daya tarik tersendiri. Lebih dari sekadar perlombaan lari, Minang Geopark Run menjadi momentum strategis memperkenalkan kekayaan alam Geopark Ngarai Sianok kepada masyarakat luas, termasuk wisatawan dari luar Sumatera Barat.
Kegiatan yang memasuki penyelenggaraan tahun kesembilan ini juga menjadi bagian dari upaya mendorong Geopark Ngarai Sianok menuju pengakuan UNESCO Global Geoparks (UGGp).
Wali Kota Bukittinggi, Ramlan Nurmatias, menegaskan bahwa Minang Geopark Run merupakan salah satu langkah konkret untuk memperkenalkan potensi alam dan pariwisata Bukittinggi serta Kabupaten Agam melalui kegiatan olahraga.
“Ngarai Sianok kita jadikan geopark nasional. Ini salah satu dasar kita menyelenggarakan kegiatan ini,” ujar Ramlan dalam konferensi pers di lantai IV Gedung Pasar Atas Bukittinggi, Sabtu (31/10/2026).
Menurutnya, olahraga lari merupakan media promosi yang efektif karena para peserta dapat menikmati secara langsung panorama alam, keindahan kawasan geopark, serta berbagai potensi wisata yang dimiliki Bukittinggi dan Agam.
“Bagaimana dengan berlari kita memperkenalkan alam Agam dan Bukittinggi, sehingga potensi wisata yang kita miliki semakin dikenal masyarakat luas,” ungkapnya.
Ramlan juga optimistis kehadiran ribuan peserta akan memberikan dampak positif terhadap perekonomian masyarakat. Kehadiran pelari dari berbagai daerah diperkirakan meningkatkan aktivitas sektor perhotelan, kuliner, transportasi, hingga usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
“Ini dampaknya terhadap ekonomi. Pastinya peserta menginap di Bukittinggi dan Agam, kuliner juga ikut bergerak,” katanya.
Menurutnya, dampak ekonomi tersebut tidak hanya dirasakan selama pelaksanaan kegiatan, tetapi juga berpotensi memperluas promosi destinasi wisata kedua daerah melalui pengalaman langsung para peserta.
Sementara itu, Founder Minang Geopark Run, Yv Tri Saputra, menjelaskan bahwa kegiatan ini sejak awal dirancang bukan semata-mata sebagai ajang kompetisi olahraga, melainkan juga sebagai gerakan promosi pariwisata dan kepedulian terhadap lingkungan.
“Minang Geopark Run bukan sekadar kegiatan olahraga, tetapi juga menjadi sarana memperkenalkan potensi Geopark Ngarai Sianok kepada masyarakat luas, termasuk peserta dari luar Sumatera Barat,” jelasnya.
Ia menyebutkan, dari total 3.800 peserta yang mendaftar tahun ini, sekitar 24 persen berasal dari Pekanbaru, Provinsi Riau. Angka tersebut menunjukkan bahwa daya tarik Minang Geopark Run semakin meluas dan mampu menjangkau komunitas pelari di luar Sumatera Barat.
Yv Tri Saputra berharap kegiatan ini terus berkembang sebagai agenda sport tourism yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat lokal.
“Melalui kegiatan ini, kami ingin mendorong promosi geopark, meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan, sekaligus menghadirkan dampak ekonomi bagi masyarakat lokal, terutama sektor perhotelan, kuliner, transportasi, dan UMKM,” ujarnya.
Pada penyelenggaraan 2026, panitia menghadirkan tiga kategori perlombaan, yakni 5 kilometer umum, 10 kilometer umum, dan 21 kilometer umum. Ketiga kategori tersebut memberikan kesempatan kepada pelari dengan tingkat kemampuan dan pengalaman berbeda untuk ikut berpartisipasi.
Berawal dari 1.000 Peserta, Kini Tembus 3.800 Pelari
Minang Geopark Run pertama kali digelar pada 2018 dengan jumlah peserta sekitar 1.000 orang. Seiring perjalanan waktu, kegiatan ini terus berkembang hingga mencapai 3.800 peserta pada penyelenggaraan 2026.
Dalam perjalanannya, ajang ini pernah menghadirkan konsep perlombaan jarak jauh, termasuk ultra-marathon dan marathon pada 2019 yang melintasi dua kabupaten dan berakhir di Bukittinggi.
Penyelenggaraan berikutnya juga menjangkau sejumlah kawasan geopark di Sumatera Barat. Pada 2021, kegiatan berlangsung di kawasan Lembah Harau dan Payakumbuh dengan 357 pelari. Kemudian pada 2022, kegiatan digelar di kawasan Silokek, Kabupaten Sijunjung, dengan sekitar 600 peserta.
Sementara itu, penyelenggaraan di Bukittinggi pada 2023 diikuti sekitar 1.500 peserta. Perkembangan tersebut memperlihatkan semakin besarnya minat masyarakat terhadap kegiatan olahraga yang dikemas sekaligus sebagai promosi wisata daerah.
Minang Geopark Run 2026 juga menjadi seri kedua dalam rangkaian Geopark Run Series 2026–2027, setelah Ijen Geopark Run 2026.
Dengan kehadiran 3.800 peserta, Minang Geopark Run diharapkan semakin memperkuat citra Bukittinggi dan Kabupaten Agam sebagai destinasi sport tourism unggulan. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi peluang untuk memperkenalkan kekayaan alam Geopark Ngarai Sianok, meningkatkan kunjungan wisatawan, menggerakkan ekonomi masyarakat, serta mendorong pengembangan pariwisata berkelanjutan di Sumatera Barat.
(RDW)






