HEADLINESRIWIJAYA. COM
BUKITTINGGI– Prestasi membanggakan kembali ditorehkan dunia pendidikan Kota Bukittinggi. SMP Negeri 2 Kota Jam Gadang tersebut, secara resmi dinobatkan sebagai Terbaik Kedua Sekolah Penggerak Pantun ASEAN 2026 Tingkat SLTP. Piagam penghargaan diterima langsung Kepala SMP Negeri 2 Kota Bukittinggi Yessy Suryanti pada malam Anugerah Sekolah Penggerak Literasi di Istana Gubernur Sumbar, Jumat(3/4).
Kepala SMP Negeri 2 Kota Bukittinggi Yessy Suryanti menjelaskan, penghargaan ini diraih bukan sebuah kebetulan, melainkan dari proses panjang, kebersamaan dan keyakinan bahwa pantun masih punya tempat di hati generasi muda. Sebanyak 250 orang siswa SMP Negeri 2 menulis dan mengirimkan pantun pada ajang Festival Pantun ASEAN 2026.
“Penghargaan ini bukan sekedar prestasi, tetapi buah dari kerja keras bersama seluruh warga sekolah. Penghargaan ini juga menjadi bukti bahwa literasi di SMP Negeri 2 terus melaju dan serius ditekuni. Hingga kini, sudah banyak siswa SMP 2 yang telah menghasilkan karya, termasuk karya pantun ini yang sudah dibukukan,” ungkapnya.
Penghargaan ini diraih imbuh Yessy, tidak terlepas andil guru-guru SMP Negeri 2. Salah satunya Guru Bahasa Indonesia Dilla yang turut meraih penghargaan 200 terbaik Festival Pantun ASEAN dari tiga ribuan lebih penulis yang berpartisipasi. Dilla bersama guru lainnya menjadi motor utama menghidupkan budaya berpantun di sekolah.
Dengan penuh semangat, mereka mengajak siswa dan rekan sejawat untuk menulis, merangkai kata dan mengekspresikan rasa melalui pantun.
Guru SMP Negeri 2 Kota Bukittinggi Dilla mengatakan, Festival Pantun ASEAN 2026 diikuti berbagai daerah di Indonesia dan negara-negara ASEAN. Lebih dari 3000 orang penulis berpartisipasi dalam penulisan pantun pada ajang ini. SMP Negeri 2 berhasil meraih peringkat kedua penulis pantun terbaik tingkat SLTP.
“Selain perlombaan, ajang ini menjadi momen membiasakan anak-anak mencintai bahasa dan budaya. Dari ruang kelas, lahir karya-karya yang kemudian dikirimkan pada festival ini. Melalui pendampingan dan motivasi, para siswa berani melangkah hingga akhirnya membawa mereka meraih prestasi ini,” jelas Dilla.
“Prestasi ini bukanlah akhir, namun awal dari langkah-langkah berikutnya. Sebab dibalik pantun yang ditulis, ada karakter yang dibangun, ada keberanian yang ditumbuhkan dan ada budaya yang dijaga. Terimakasih kepada SIP Publishing dan Penyala Literasi Sumbar yang telah memfasilitasi dan menghadirkan ruang bagi generasi muda untuk terus berkarya,” ungkap Dilla.(*)
