HEADLINESRIWIJAYA.COM
BUKITTINGGI—Seminar Internasional bertajuk “Merajut Tenun Diplomasi Indonesia dan Belanda: Pergerakan Kemerdekaan hingga Repatriasi”, yang digelar dalam rangka memperingati 100 Tahun berdirinya dibuka secara resmi Wali Kota Bukittinggi Ramlan Nurmatias berlangsung di Convention Hall Bung Hatta Sabtu 20 Juni 2026.
Seminar sebagai wadah memperkuat hubungan historis, budaya, pendidikan, dan pariwisata antara kedua negara, itu dihadiri Menteri Kebudayaan Republik Indonesia Prof. Hon. Dr. Fadli Zon, M.Sc, penyair kondang Taufik Ismail, Inspektur Wilayah I Kementerian Luar Negeri Albert Abdi, SE, M.Si, unsur Forkopimda Provinsi Sumatera Barat, Ketua LKAAM Provinsi Sumatera Barat, Ketua LKAAM Kota Bukittinggi, para Niniak Mamak, Alim Ulama, Cadiak Pandai, serta keluarga besar Syafrudin Prawiranegara dan keluarga arsitek Jam Gadang, Rajo Mangkuto, St. Gigi Ameh serta ratusan undangan lainnya.
Wali Kota Ramlan Nurmatias pada seminar berskala internasional tersebut menyampaikan bahwa tema seminar yang diangkat bukan sekadar mengenang sejarah masa lalu, tetapi juga menjadi visi masa depan dalam membangun hubungan persahabatan yang saling menguntungkan antara Indonesia dan Belanda.
Menurutnya, diplomasi yang dibangun melalui jalur budaya dan sejarah memiliki kekuatan besar untuk mempererat kerja sama antarbangsa, terutama dalam bidang pendidikan, penelitian, kebudayaan, dan pariwisata. Hubungan yang baik tersebut diharapkan mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat kedua negara.
Ramlan Nurmatias mengungkapkan bahwa hingga saat ini telah ada 38 negara yang mengajukan berbagai bentuk kerja sama dengan Pemerintah Kota Bukittinggi. Hal ini menunjukkan bahwa Bukittinggi semakin dikenal dunia sebagai kota yang memiliki nilai sejarah, budaya, dan pendidikan yang sangat kuat.
Ia menegaskan bahwa peringatan Satu Abad Jam Gadang bukan hanya perayaan sebuah bangunan ikonik, melainkan momentum untuk merefleksikan perjalanan panjang Kota Bukittinggi dari masa kolonial hingga menjadi salah satu kota penting dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia.
“Jam Gadang menjadi saksi perjalanan sejarah yang luar biasa. Dari sebuah kota kolonial, Bukittinggi tumbuh menjadi kota pendidikan, kota perjuangan, dan kota yang memiliki peran strategis dalam perjalanan bangsa Indonesia,” ujar Ramlan.
Dalam kesempatan tersebut, Wali Kota juga mengingatkan bahwa Bukittinggi pernah menjadi pusat pemerintahan Republik Indonesia pada masa perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Dari kota inilah lahir berbagai gagasan besar yang turut membentuk arah perjalanan bangsa.
Ia menambahkan bahwa Bukittinggi juga melahirkan banyak tokoh nasional, elit politik Nusantara, serta menjadi bagian penting dalam perkembangan dunia literasi Indonesia melalui generasi Balai Pustaka yang berkontribusi besar terhadap perkembangan bahasa dan kebudayaan nasional.
Menurutnya, cikal bakal perkembangan Bahasa Indonesia yang kemudian dipertegas melalui Sumpah Pemuda Tahun 1928 tidak dapat dilepaskan dari dinamika intelektual yang berkembang di kawasan Minangkabau dan Bukittinggi pada masa itu.
“Ini adalah sejarah besar yang tidak boleh kita hilangkan. Generasi muda harus memahami dan menjaga warisan sejarah ini agar tetap hidup dan menjadi sumber inspirasi bagi pembangunan bangsa ke depan,” katanya.
Pada bagian akhir sambutannya, Ramlan Nurmatias menyoroti peran penting Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) yang dipimpin oleh Syafrudin Prawiranegara saat Indonesia menghadapi situasi genting akibat agresi militer Belanda. Menurutnya, keberadaan PDRI menjadi bukti bahwa semangat perjuangan bangsa tidak pernah padam.
“Tanpa PDRI, Indonesia tidak ada apa-apanya. Ketika negara dalam keadaan genting, Indonesia dipimpin oleh Syafrudin Prawiranegara. Sejarah bukan hanya untuk dibaca, tetapi harus dirasakan dan diwariskan kepada generasi berikutnya,” tegas Wali Kota Bukittinggi disambut tepuk tangan para peserta seminar internasional.(Ridwan).
