Diduga Mesum di Dalam Mobil, Oknum Kades Kembang Seri Digerebek Warga

HEADLINESRIWIJAYA.COM

Batanghari – Isu dugaan perbuatan asusila yang melibatkan oknum Kepala Desa (Kades) Kembang Seri, Kecamatan Maro Sebo Ulu, Kabupaten Batanghari, tengah menjadi perbincangan hangat di tengah masyarakat.

Peristiwa ini bermula dari dugaan hubungan terlarang antara AF, yang diketahui menjabat sebagai kepala desa, dengan seorang wanita berinisial SH yang masih berstatus istri orang. Keduanya diduga digerebek saat berada di dalam sebuah mobil Toyota Calya milik AF, yang terparkir di depan Puskesmas Sungai Rengas.

Kejadian tersebut terjadi pada Selasa malam, 1 Maret 2026, sekitar pukul 02.00 WIB. AF dan SH digerebek oleh dua orang, yakni Bayu Pranata dan Sayuti, yang merupakan adik kandung serta adik ipar dari SH.

Penggerebekan ini sontak menghebohkan warga Desa Kembang Seri dan melahirkan ungkapan viral di kalangan masyarakat, yakni “Mobil Bergoyang, Hati Bergetar”.

Sebelumnya, gerak-gerik keduanya telah dicurigai oleh pihak keluarga SH. Dugaan perselingkuhan terungkap setelah ditemukan percakapan WhatsApp antara AF dan SH di ponsel milik SH. Berbekal bukti tersebut, Bayu Pranata dan Sayuti kemudian membuntuti keduanya hingga akhirnya memergoki mereka berada berdua di dalam mobil.

Diketahui, sebelum kejadian, SH tengah berada di puskesmas untuk merawat ibunya yang sakit. Namun, situasi tersebut diduga dimanfaatkan untuk bertemu dengan AF. Sementara itu, suami SH berinisial FD diketahui sedang bekerja di Kabupaten Sarolangun.

Saat penggerebekan berlangsung, pintu mobil sempat diketuk oleh pihak keluarga, namun tidak mendapat respons selama beberapa menit. Hal ini memunculkan dugaan kuat bahwa keduanya tengah melakukan perbuatan tidak senonoh.

Menurut pengakuan FD, dugaan perselingkuhan ini bukan yang pertama kali terjadi. Ia menyebut kejadian serupa pernah terjadi pada tahun 2025, namun saat itu ia masih memberikan maaf dan menyelesaikannya secara kekeluargaan.

“Untuk kejadian pertama saya memaafkan dan kami berdamai. Saya anggap itu kehilafan. Namun sekarang terulang kembali, saya akan menuntut keadilan,” ujar FD dengan nada kecewa, Sabtu (04/04/2026).

FD juga menyayangkan sikap AF yang seharusnya menjadi panutan masyarakat.
“Seharusnya kepala desa menjadi contoh, bukan malah menghancurkan rumah tangga orang. Untuk kali ini, tidak ada lagi kata maaf,” tegasnya.

Hal senada juga disampaikan oleh tokoh adat Desa Kembang Seri, Ahmad. Ia menilai perbuatan tersebut telah meresahkan masyarakat dan meminta agar AF segera diberhentikan dari jabatannya.

“Secepatnya kita akan lakukan sidang adat. Kami juga meminta agar yang bersangkutan diberhentikan dari jabatan sebagai kepala desa,” ujarnya.

Dari informasi yang dihimpun, peristiwa penggerebekan tersebut sempat direkam menggunakan ponsel oleh pihak keluarga. Dalam rekaman tersebut, AF terdengar memohon agar kejadian itu tidak disebarluaskan.

Kasus ini kini menjadi sorotan publik dan memicu desakan agar dilakukan penanganan secara hukum maupun adat. (*)