HEADLINESRIWIJAYA.COM-
MUSI BANYUASIN — Aktivitas industri hulu minyak dan gas (migas) di Desa Gajah Mati, Kecamatan Babat Supat, Kabupaten Musi Banyuasin (Muba), tidak hanya menghasilkan energi bagi kebutuhan nasional. Di wilayah operasi tersebut, program pemberdayaan masyarakat yang dijalankan PT Medco E&P Indonesia (Medco E&P) melalui skema Corporate Social Responsibility (CSR) turut melahirkan dampak ekonomi baru bagi warga, khususnya kelompok perempuan.
Program yang dimulai sejak 2011 itu berkembang menjadi gerakan ekonomi berbasis tanaman obat keluarga (TOGA) yang kini dikelola Kelompok Wanita Tani (KWT) Kenanga.
Ketua KWT Kenanga, Yeni Lusmita(57), mengatakan kegiatan tersebut berawal dari pelatihan sederhana yang diberikan perusahaan kepada ibu-ibu PKK Desa Gajah Mati mengenai pemanfaatan tanaman herbal dan rempah untuk kebutuhan kesehatan keluarga.

“Awalnya kami hanya ibu rumah tangga biasa. Kami diajak belajar menanam tanaman herbal, mengolah hasilnya, lalu memahami bahwa tanaman ini juga memiliki nilai ekonomi. Dari situ muncul kepercayaan diri untuk membantu pendapatan keluarga,” ujar Yeni.
Program pendampingan kemudian berkembang. Selain pelatihan, kelompok mendapatkan dukungan berupa bibit tanaman, peralatan produksi, hingga studi banding ke luar provinsi pada 2013 untuk memperluas wawasan pengolahan herbal dan pengelolaan usaha kecil.
Dari proses tersebut lahirlah unit usaha produktif Rumah Herbal Kenanga yang mulai beroperasi pada 2022. Rumah produksi tersebut kini menghasilkan berbagai produk olahan herbal seperti jahe instan, bandrek, minuman kesehatan, sirup herbal, hingga kapsul berbahan tanaman obat.
Menurut Yeni, keberadaan Rumah Herbal Kenanga membawa dampak nyata bagi ekonomi keluarga anggota kelompok.

“Bukan hanya alat yang diberikan, tetapi juga pengetahuan. Kami belajar membuat produk yang memiliki nilai jual dan membuka peluang usaha baru,” katanya.
Keberhasilan kelompok ini turut menciptakan efek berganda (multiplier effect) bagi perekonomian desa. Selain meningkatkan pendapatan anggota, program tersebut juga mendorong tumbuhnya rantai pasok lokal melalui budidaya tanaman herbal di pekarangan warga.
Saat pandemi Covid-19, permintaan produk herbal dari Desa Gajah Mati bahkan mengalami peningkatan karena tingginya kebutuhan masyarakat terhadap produk kesehatan berbasis herbal.
Seiring berkembangnya usaha, KWT Kenanga aktif mengikuti pameran UMKM tingkat kecamatan, kabupaten, hingga provinsi. Produk yang dihasilkan juga telah memiliki legalitas usaha berupa Nomor Induk Berusaha (NIB), sertifikasi halal, dan izin edar.

Manager Field Relation & Community Enhancement Medco Energi South Sumatera Region, Hirmawan Eko Prabowo, mengatakan pemberdayaan masyarakat menjadi bagian dari upaya perusahaan membangun kemandirian ekonomi warga di sekitar wilayah operasi.
“Kami ingin sektor hulu migas menghadirkan manfaat yang berlapis bagi masyarakat. Program Tanaman Obat Keluarga menjadi contoh bagaimana potensi lokal dapat dikembangkan secara berkelanjutan melalui peran aktif kelompok perempuan,” ujarnya.
Menurutnya, pengembangan masyarakat tidak dapat dilakukan secara instan, tetapi membutuhkan pendampingan yang konsisten agar mampu mendorong pertumbuhan ekonomi sekaligus memperkuat kapasitas warga.
Kini, Desa Gajah Mati tidak hanya dikenal sebagai kawasan penyangga industri migas, tetapi juga sebagai sentra pengembangan produk herbal berbasis masyarakat.
Dari wilayah yang selama ini identik dengan sumur minyak, tumbuh energi baru yang lahir dari tangan-tangan perempuan desa—menghasilkan nilai ekonomi, memperkuat kemandirian keluarga, dan membangun ekonomi hijau dari tingkat lokal.(*)
Penulis: Heriyanto
